Penjaga perbatasan India, Purnam Kumar Shaw, ditahan oleh Pasukan Ranger Pakistan sejak 23 April, sehari setelah serangan mematikan di wilayah Kashmir yang dikelola India. Serangan tersebut menewaskan 26 orang dan memicu balasan berupa serangan rudal, drone, dan jet tempur.
Meski belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan 22 April itu, India menuduh kelompok militan yang didukung Pakistan sebagai pelakunya. Islamabad membantah tuduhan tersebut dan menyerukan penyelidikan independen.
"Penyerahan dilakukan secara damai dan sesuai protokol," kata pernyataan resmi Pasukan Keamanan Perbatasan India.
Pemulangan Shaw disambut penuh haru oleh keluarganya. Sang istri, Rajani, yang tengah hamil, mengaku hampir putus asa sebelum adanya keputusan gencatan senjata.
Di hari yang sama, militer Pakistan mengumumkan data terbaru korban tewas akibat konflik. Menurut mereka, serangan India yang disebut “kejam dan tak beralasan” menyebabkan 40 warga sipil tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, serta 13 personel militer. Di sisi lain, India melaporkan 15 warga sipil dan lima tentaranya juga menjadi korban.
Dalam pidatonya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa negaranya telah "membalas dendam" atas konflik 1971 yang mengakibatkan lahirnya Bangladesh.
Ketegangan terbaru ini merupakan eskalasi paling serius sejak konflik terbuka terakhir pada 1999, dan menimbulkan kekhawatiran internasional atas potensi pecahnya perang besar.
Militer Pakistan juga mengklaim berhasil menembak jatuh lima jet tempur India, sementara pihak India belum memberikan konfirmasi, meski sumber keamanan menyebutkan tiga pesawat jatuh di wilayah India.
Perdana Menteri India Narendra Modi mengecam Pakistan dalam pidato nasionalnya, menuding negara tetangga itu memilih konfrontasi daripada kerja sama dalam memerangi terorisme.
Modi juga menyampaikan terima kasih kepada pasukan India yang terlibat dalam konflik. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Pakistan menolak tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai narasi menyesatkan dan meminta masyarakat internasional turut mengawasi sikap India.
Kashmir, wilayah mayoritas Muslim yang menjadi sengketa sejak 1947, telah memicu dua perang besar antara India dan Pakistan, dan terus menjadi titik konflik berkepanjangan.
